1000 word's challege, Cerita Pejalan, Perspektive, Semacam pencerahan

#AsumsiLive : Politik Jangan Baper

Hari selasa yang lalu lalu (20 Februari 2018) Asumsi mengadakan #AsumsiLive di kota Solo. Bagi yang belum tau Asumsi, awalnya asumsi adalah sebuah channel youtube yang digagas sama Iman Syafi’i dan Pangeran Siahaan. Konten dari channel ini adalah ‘asumsi’ tentang keadaan dan peristiwa yang sedang terjadi di Indonesia yang dikemas secara apik dan anak muda banget. Dari hanya berdua saja berkembang menjadi sebuah tim orang-orang kerenpun masuk di Asumsi, favorit saya tidak lain tidak bukan adalah mba @Jessicawowor seorang jurnalis senayan yang tantik dan pintel.

Sudah diworo-woro jauh-jauh hari di twitter @asumsico tentang live di beberapa kota ini, akhirnya gue dan kak @joshualeonheart bersepakat untuk pergi ke Solo bersama *ceilah. Senin siang dia lari dari Pemalang dan gue nunggu di terminal sukun untuk berangkat bareng.

asumsi

Sekitar jam 3 lewat akhirnya gue ketemu dengan Kak Jo, tanpa ba bi bu langsung saja kami cus ke Solo dengan menggunakan bus Safari, kebetulan bisnya engga penuh, maklum hari masih sore dan hujan sepertinya mau turun.

Terakhir ketemu kak Jo itu sebulan yang lalu ketika kita pergi ke Bandung, jadi selama hampir 3 jam perjalanan kami ngobrol seru, topik sana sini dan ini itu, dari kondisi perpolitikan, situasi ekonomi Indonesia, status jomblo,  pattern kegerakan rohani di zaman ini dan tentu saja GBT dan segala dramanya wkwkwkwk

3 jam perjalanan tanpa berhenti ‘berdiskusi’ akhirnya mengantarkan kami ke terminal Tirtonadi, Solo. Sekitar jam 6 lebih kami sampai di Terminal, lalu ke toilet sebentar dan memesan Gocar menuju  Hierarchy Society, sebuah Cafe di daerah kampung batik Laweyan (honestly, gue ga ngerti itu daerah dimana wkwkkwk).

Sampai di Hierarchy Society sekitar jam setengah 7 malam, ternyata acara sudah dimulai. terlambat sih, tapi yang datang juga belum terlalu banyak.

Diskusi sudah dibuka ada Bang Iman dan Pange, lalu beberapa tokoh Ampi, kalo ga salah Ampi ini gerakan yang digagas sama partai Golkar, kebetulan juga ada politikus muda dari Golkar juga buat berdiskusi tentang situasi dan kondisi politik Indonesia yang sedang menghadapi pilkada serentak, yang sudah pasti Pilkada di Jawa akan menjadi primadona sebagai tolok ukur pemilu presiden di 2019. Ada juga satu narasumber yang terbilang dadakan, tapi ternyata orang ini adalah orang super (maaf aing lupa namanya) belio ini tokoh yang tau banyak tentang seluk beluk Solo dan juga perkembangan politik di Indonesia, tampilannya sih biyasa aja, tapi otaknya beuh DEWA.

IMG_2071

Banyak banget ilmu, pelajaran dan informasi yang didapet dari sini. 2 jam setengah kita penuh dengan pembicaraan bahan-bahan bicara yang menarik dan menggoda. Mulai dari perkembangan politik di Indonesia, peta pilkada di pulau Jawa khususnya, menyebar-pesatnya hoax, lalu narasi politik sara, strategi merketing media oleh politikus, kebijakan pemerintah akhir-akhir ini sering blunder, RKUHP, UU MD3, dan masih banyak lagi. Pokoknya semua topik yang dibicarakan itu seru dan anak muda banget.

Favorite gue di #AsumsiLive saat itu adalah Bang Pangeran Siahaan, yang otaknya pinter dan independensinya perlu ditiru. Ketika sesi tanya jawab dibuka, Gue mengajukan pertanyaan. Pertanyaannya tentang Pandji Pragiwaksono yang isu-isunya akan terjun ke politik praktis, asumsi netizen tergiring berkat video baru dari Pandji lalu didukung dengan banner gede banget di Bandung dengan poto Pandji dengan tagline berani dan berwawasan. Belum lagi asumsi dari @romeogadungan yang seketika manjadi viral.

Selesai dengan pertanyaan itu, pertanyaan gue dijawab sama Bang Pangeran Siahaan dengan off record session, pokoknya jangan sampai kerekam. Dengan simpel Bang Pange jawab kalau Pandji engga bakal masuk politik.

Reaksi pertama gue denger hal itu

OH SHIT. . .

Berarti poster itu. . . .  kita tahu ini bakal ngarah kemana wkwkwkwk

DAMN. . .

Gue berasa jadi domba-domba tersesat yang digiring opininya sama bang Pandji. Berasa orang yang dibego-begoin dengan strategi pemasaran yang jenius. Fyi Pangeran Siahaan dan Iman Syafe’i ini adalah junior nya bang Pandji di Provocative Proactive dulu di Metro TV sekaligus mentor marketing mereka berdua. Setelah merasa terperdaya, gue memutuskan untuk ga terlalu serius dengan dunia perpolitikan di Indonesia, tetap mengikuti alur kemana politik negeri ini sedang berjalan, namun tidak baper-baperan lagi. Nyesel bet gue merasa terperdaya dengan orang yang bahkan ga gue kenal.

Terakhir dan yang paling penting dari nasehat bang Pange adalah jangan terlalu  mendewakan dari orang yang dianggap panutan terutama dalam politik. Contohnya ketika pilkada ada kampanye untuk tidak memilih partai yang mendukung penista agama (Ahok) yang kebetulan didukung oleh PDIP, Hanura, Nasdem, Golkar. Seruan tidak memilih beberapa partai tersebut begitu keras dan gencar dikoar-koarkan. Terjadi rivalitas antara dua kubu yakni kubu pertama PDIP, Hanura, Nasdem, Golkar dan kubu kedua Gerindra, PKS, dan PAN. Namun kalo sekarang kita melihat pilkada Jawa Timur, Pasangan Gus Ipul dan Mbak Puti PDIP, Gerindra dan PKS malah satu koalisi. Kan NGEHE tuh wkwkwkwk

Yang kedua adalah, narasi perpolitikan di Indonesia itu masih satu warna para calon yang bertarung menggunakan visi misi yang hampir mirip, cuma tagline dan kalimat visi misinya saja yang berbeda. Masih (katanya) tentang memperjuangkan rakyat miskin, meratakan pendidikan, memajukan perekonomian rakyat, mensejahterakan rakyat dan blah. . . blah. . . blah. . . Berbeda sekali dengan pemilu di Amerika yang lalu, antara Demokrat dan Republik benar-benar pada dua side yang berbeda, yang satu pro dengan aborsi, yang satu enggak, yang satu pro dengan imigran yang satunya juga enggak, yang satu ingin membangun tembok, yang lainnya ingin membangun “jembatan” benar-benar warna yang bertolak belakang sih.

IMG_2085

Narasi politik yang kedua adalah perpolitikan di Indonesia itu masih belum (terlalu) based on fact atau program kerja tapi berdasarkan emosi ntah itu fans fanatik garis keras ataupun haters yang gila keduanya sama aja. Adanya kesamaan agama, suku, atau ideolgi membuat para pendukung mempunyai ikatan emosi yang kuat, sehingga kadang logika dan perpektive tidak begitu dipertimbangkan. Sehingga banyak pendukung, fans, cebongers, ahoker, MCA, datarians bergerak dengan membabi buta dan yang paling menyedihkan adalah ketika mereka mulai memasuki ranah pribadi/privasi orang-orang yang mereka dukung atau benci. Contohnya pada kasus perceraian Ahok dan Veronika misalnya, atau kasus hukum “chat sex”,  itu bukan urusan lo nyet. Menjelek-jelekkan orang lain itu sama saja sedang menjelekkan diri sendiri. Gunakan argumen berdasarkan fakta sehingga tidak terjadi logical fallacies, serang hal-hal yang dianggap emang perlu dikritik bukan malah menghina personal seseorang.

Gue kagum banget dengan Bang Pangeran Siahaan, yang dia tunjukkan netralitasnya dan pengetahuan belio tentang dunia komunikasi dan perpolitikan, belum lagi sikap kritisnya terhadap hal-hal yang mungkin terlupakan oleh para domba-domba tersesat yang mudah digiring opininya timbul di benak dia. Salut bener pokoknya gue, jadi pengen lebih banyak baca buku lagi dan lebih ga baper menghadapi situasi yang terjadi di Indonesia, bukan cuma untuk kebaikan Indonesia tapi juga kebaikan emosi jiwa juga sih ketika ngeliat twit-twit Fadli zon sekarang ga lagi kebawa emosi  dan malah lebih santai kaya di pantai.

IMG_2082
with Bang Pangeran Siahaan

Ya setelah selesai acara Asumsi kami poto-poto bentar sama bang Pengeran dan bang Iman, abis itu ngacir deh karena udah kelaperan. Akhirnya kami mlipir ke warung emperan, kebetulan gue pesen gudeg dan Kak Jo pesen Soto. Sambil leyeh-leyeh ngobrol-ngobrol kecil.

Selesai makan kita pergi (lagi) ke terminal Tirtonadi dan lanjut pulang ke Semarang lagi. Sekitar jam setengah 12 malam kita meluncur menggunakan bus malam dari Solo menuju Semarang. Karena lelah seharian, kami tidur di bus yang sebenernya kecepatan dari bus itu udah  brutal. Tapi kita bodo amat  kita percaya aja nanti bakal sampe Semarang.

Jam setengah 1 malam, akhirnya sampe di Semarang.

Usai sudah petualangan hari ini, dengan perasaan dan pelajaran baru. Capek, pegal, ngantuk tapi seru. Perjalanan kali ini memotivasi gue untuk lebih melek politik, banyak membaca, santai menghadapi drama dan ga baper. Jangan lagi-lagi deh jadi domba yang opininya digiring oleh tokoh publik wkwkwkwk. Jadi manusia merdeka itu lebih asyique.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s